Oleh : Arhas Yoga
Di tengah dinamika politik yang semakin sarat kepentingan dan pragmatisme, keberanian untuk menghadirkan political will atau kemauan politik yang tulus menjadi fondasi utama dalam membangun partai yang sehat, kuat, dan berpihak kepada rakyat. Bagi seorang kader, membesarkan partai bukan sekadar ambisi pribadi ataupun perebutan pengaruh semata, melainkan tentang menciptakan ruang perjuangan yang adil, terbuka, dan memberi kesempatan kepada seluruh elemen untuk tumbuh bersama.
Kemauan politik sejati lahir dari keseimbangan antara tekad pribadi dan komitmen kolektif. Ia tidak berhenti pada retorika podium atau janji-janji yang menguap setelah kekuasaan diraih. Lebih dari itu, political will adalah keberanian untuk menghadirkan perubahan nyata demi terciptanya kesamarataan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Dalam perjuangan politik yang sehat, tidak boleh ada budaya nafsi-nafsi maupun nafsu kekuasaan yang hanya mengutamakan kepentingan kelompok tertentu. Politik harus menjadi ruang gotong royong yang mempersatukan langkah, menyapu seluruh rintangan bersama hingga mencapai hasil yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.
Namun demikian, perjuangan politik juga tidak boleh menjelma seperti pisau bermata dua: tampak sempurna di awal, tetapi berakhir dengan kehancuran dan pengkhianatan nilai. Politik harus berdiri di atas asas manfaat, bukan mencari keuntungan dalam kesempitan. Sebab ketika kepentingan pribadi menjadi panglima, maka tatanan kehidupan organisasi akan perlahan kehilangan arah dan tujuan.
Karena itu, hegemoni kekuasaan yang selama ini langgeng dan berbau kolusi, korupsi, serta nepotisme harus mulai dicairkan. Pilar-pilar kedigdayaan yang menutup ruang kompetisi sehat perlu diruntuhkan demi menghadirkan regenerasi politik yang lebih bermartabat.
Ambang batas yang membatasi kemampuan seseorang untuk bersaing secara sehat juga dinilai menjadi kerancuan dalam budaya politik modern. Dalam kultur masyarakat timur yang menjunjung kebersamaan, sekat-sekat eksklusif semacam itu tidak lagi relevan untuk dipertahankan, terlebih di tubuh Partai Gerakan Mandiri Bangsa yang mengedepankan keterbukaan dan partisipasi.
Partisipasi politik yang LUBER — langsung, umum, bebas, dan rahasia — merupakan hak prerogatif seluruh rakyat. Tidak boleh ada intimidasi, paksaan, ataupun kehendak sepihak apabila cita-cita menghadirkan clean government benar-benar ingin diwujudkan sesuai koridor demokrasi yang sehat.
Peringatan klasik dari Lord Acton, “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely,” menjadi refleksi penting bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Ketidakadilan, ketidakjujuran, dan ketidakamanahan hanya dapat diberantas melalui keterbukaan dan keberanian melakukan pembenahan dari dalam.
Dengan menghilangkan anomali politik, sikap arogan, ketidakbecusan dalam berpikir dan bertindak, hingga kesewenang-wenangan, maka perjuangan menuju perubahan akan menemukan jalannya. Dari titik nol menuju seorang hero, lahirlah politik pengabdian yang sesungguhnya.
Konektivitas perjuangan itu pun harus terus berlangsung secara berkelanjutan, baik di internal maupun eksternal partai, hingga memperoleh pengakuan secara de facto maupun de jure. Sebab politik modern membutuhkan jejaring kuat, solidaritas yang kokoh, dan visi besar yang diperjuangkan bersama.
Dalam menentukan figur perjuangan, masyarakat tidak lagi ingin “membeli kucing dalam karung.” Yang dipertaruhkan adalah kualitas, integritas, dan kapasitas seseorang untuk membawa perubahan. Karena itu, kualitas kader menjadi harga mati yang harus diperjuangkan bersama.
Mimpi besar sebuah partai tidak akan pernah terwujud apabila delusi dan fatamorgana politik terus dipelihara. Harapan harus dibangun di atas realitas, kerja nyata, dan keberanian menghadapi tantangan zaman.
Kini saatnya mengatur barisan, memperkuat jaringan, dan menggemakan semangat perjuangan demi memperkokoh persatuan. Sebab pada akhirnya, sejauh apa pun langkah perjuangan diarahkan, rakyat tetap menjadi penentu utama perjalanan politik itu sendiri. Karena sesungguhnya, Vox Populi Vox Dei — suara rakyat adalah suara Tuhan.
Penulis merupakan Sekretaris DPD Partai Gema Bangsa Aceh Tamiang. (Herman)










































