BENER MERIAH, GEMAPERA.COM – Ditengah luka yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana, rakyat berdiri di garis depan harapan menunggu uluran tangan yang cepat, tepat, dan nyata. Di sisi lain, hadir Panitia Khusus (Pansus) DPRK sebagai instrumen politik pengawasan yang sejatinya lahir untuk memastikan tata kelola berjalan dengan baik. Namun, ketika dua kepentingan ini bertemu antara mekanisme politik dan kebutuhan mendesak rakyat muncul pertanyaan mendasar : apakah pansus menjadi solusi, atau justru memperlambat jalan pemulihan?
Fokus saat ini adalah percepatan pemulihan masyarakat, bukan memperpanjang proses administratif yang berpotensi menghambat distribusi bantuan. Dalam situasi pasca bencana, waktu bukan sekadar angka, melainkan penentu antara harapan dan keputusasaan. Setiap hari yang tertunda berarti ada keluarga yang belum mendapatkan bantuan, ada anak-anak yang masih bertahan dalam keterbatasan, dan ada kehidupan yang belum kembali normal.
Pembentukan pansus seringkali membawa konsekuensi prosedural yang panjang, rapat, kajian, pemanggilan pihak terkait yang secara tidak langsung menyita energi dan perhatian para pemangku kebijakan.
Alih-alih mempercepat, proses ini berisiko menggeser fokus dari tindakan nyata ke diskursus administratif. Dalam kondisi darurat, yang dibutuhkan bukanlah tambahan forum, melainkan percepatan eksekusi.
Lebih jauh, penting untuk disadari bahwa semangat pengawasan tidak boleh mengorbankan urgensi kemanusiaan.
Ketika rakyat membutuhkan kehadiran negara secara cepat, maka seluruh instrumen kebijakan seharusnya diarahkan untuk mendukung kelancaran distribusi bantuan, bukan menambah lapisan birokrasi yang berpotensi menghambatnya.
Pengawasan sudah dilakukan oleh lembaga resmi yang memiliki kewenangan audit. Pansus justru berpotensi duplikasi kerja.
Dalam konteks pemulihan pasca bencana, yang dibutuhkan adalah sinergi dan efisiensi, bukan tumpang tindih kewenangan. Sudah saatnya kita menempatkan kepentingan rakyat di atas dinamika politik, agar pemulihan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan. Tutup Yudi Gayo. (Ril)








































