Oleh : Haris
Mentalitas “katak dalam tempurung” bukan sekadar persoalan sikap individu, melainkan ancaman serius bagi masa depan daerah. Fenomena ini terlihat ketika sebagian generasi muda merasa paling kritis namun enggan memperdalam literasi, merasa paling peduli namun tidak terlibat dalam aksi nyata, serta mengaku nasionalis namun lebih sibuk membela ego nya sendiri.
Padahal, sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Para pendiri bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta tidak membangun Republik ini dengan sikap apatis. Mereka menghadapi risiko, tekanan, dan pengorbanan demi kepentingan bersama.
Hari ini, tantangan generasi muda berbeda bentuk, tetapi sama beratnya. Ditengah kemudahan akses informasi dan teknologi, muncul kecenderungan mencari validasi instan ketimbang memperjuangkan perubahan nyata. Terlalu banyak yang ingin viral, terlalu sedikit yang benar-benar ingin berjuang, ini bukan soal kurangnya kesempatan, melainkan soal kemauan.
Kabupaten Bener Meriah ini tidak kekurangan generasi cerdas. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpikir terbuka, kesediaan untuk dikritik, dan komitmen untuk bekerja nyata demi kepentingan bersama.
Jika mentalitas ini terus dipelihara, maka tanpa disadari kita sedang melakukan bentuk paling halus dari pengkhianatan perjuangan membiarkan cita-cita besar para pendiri Negeri ini menyusut menjadi sekadar slogan tanpa makna.
Asosiasi Pemuda Desa Bener Meriah mengajak seluruh generasi muda untuk keluar dari “tempurung” kenyamanan, memperkuat literasi, membangun solidaritas, dan mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah. Perubahan tidak lahir dari komentar semata, melainkan dari komitmen dan tindakan nyata.
Penulis adalah Sekretaris Asosiasi Pemuda Desa Bener Meriah








































