Oleh : Aris Setiyanto*
aku seharusnya menepi ke rawa
memesan es teh manis dan membaca buku
di bawah kawanan sengon
yang menari mengikuti irama dalam kepala
tapi, rawa itu membaca hidupku
ia rela diam jika tubuh ini aku tenggelamkan
namun aku dapat berenang
aku hanya hidup karena tidak bisa mati
tapi, kenangan telah membentangkan tangan
ada dirimu di bibir rawa itu
kau sedang memintaku untuk banyak memotret
dan lupa mengucapkan ‘terima kasih’
aku seharusnya berjalan di pematang
tapi kau kehilangan video yang aku rekam
dan video itu lebih penting daripada hatiku
video itu lebih penting daripada dirimu.
Aris Setiyanto. Lahir 12 Juni 1996. Juara harapan 1 lomba cipta puisi Kopisisa 2022. Buku puisinya, Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas (2020) dan Ketika Angin Berembus (2021). Karyanya termuat di Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka dll.